RAHASIA DI BALIK PINTU PESANTREN
Rahasia di Balik Pintu Pesantren
Malam itu, jam dinding di asrama menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Suasana Pesantren sunyi mencekam, hanya suara jangkrik yang bersahutan dengan deru angin dari sawah di belakang pesantren.
Zaid, santri yang dikenal paling cerdas namun sombong, masih terjaga. Ia sedang mempersiapkan diri untuk perlombaan Musabaqah Qira’atil Kutub (baca kitab kuning) tingkat kabupaten. Di depannya tergeletak kitab Ihya Ulumuddin yang tebal.
Namun, Zaid punya kebiasaan buruk. Ia sering meletakkan gelas kopi di atas kitab suci tersebut. Ia juga sering belajar sambil selonjoran kaki, dengan kaki yang mengarah langsung ke arah rak kitab dan foto sang Kiai.
"Ah, itu kan cuma tradisi kolot," ucap Zaid saat teringat teguran temannya tadi siang. "Ilmu itu ada di otak, bukan di cara duduk."
Tiba-tiba, lampu di kamarnya berkedip. Pet! Padam total.
Zaid meraba-raba mencari ponselnya. Namun, saat cahaya ponsel menyala, ia menyadari sesuatu yang aneh. Ia tidak lagi berada di kamarnya. Ia berada di dalam perpustakaan tua pesantren yang sudah bertahun-tahun dikunci. Bau apek kertas tua dan kemenyan menyeruak.
Sret... sret... sret…?
Suara kertas dibalik terdengar dari sudut ruangan yang gelap. Zaid mengarahkan cahaya ponselnya. Di sana, duduk sesosok bayangan hitam besar yang mengenakan sorban lusuh. Sosok itu sedang membaca kitab, namun kakinya tidak menapak tanah.
"Si... siapa?" ucap Zaid ketakutan.
Sosok itu menoleh perlahan. Wajahnya rata, hanya ada lubang hitam di tempat seharusnya mata berada. Yang mengerikan, sosok itu sedang memegang kitab milik Zaid. Tangan makhluk itu yang hitam dan kurus mencakar-cakar halaman kitab tersebut.
"Kau mencari ilmu..." suara itu terdengar seperti gesekan amplas pada kayu, menggema di dalam kepala Zaid. "Tapi kau menginjak-injak wadahnya."
Tiba-tiba, kaki Zaid terasa kaku. Ia melihat ke bawah. Bayangan hitam yang pekat merayap dari lantai, melilit kakinya yang tadi ia gunakan untuk selonjoran dengan tidak sopan. Rasa dingin yang luar biasa menusuk hingga ke tulang.
"Ilmu tanpa adab adalah milik kami," bisik makhluk itu lagi. Kini ia sudah berada tepat di belakang telinga Zaid. "Iblis punya ilmu, tapi tidak punya adab. Kau ingin menjadi kawan kami?"ucap sang iblis
Zaid mencoba berteriak, tapi suaranya hilang. Ia melihat kitab-kitab di rak mulai terbang dan mengelilinginya, lembarannya terbuka dan menutup dengan cepat seperti sayap-sayap burung yang marah. Kertas-kertas itu menyayat kulit lengannya, perih sekali.
Dalam kepanikannya, Zaid teringat satu hal: Tawadhu.
Ia menjatuhkan dirinya ke posisi sujud. Dengan sisa tenaga, ia berbisik dalam hati, "Ya Allah, ampuni kesombonganku. Guru, maafkan kelancanganku..."
Seketika, suhu ruangan yang tadinya dingin membeku berubah menjadi hangat. Suara kepakan kertas berhenti. Saat Zaid membuka mata, ia kembali berada di kamarnya. Lampu sudah menyala.
Namun, ada yang berbeda. Kitab yang tadi ada di depannya kini sudah tertutup rapi, meski Zaid yakin tadi ia membukanya. Dan yang paling membuat bulu kuduknya berdiri adalah... di atas sampul kitab itu, terdapat bekas telapak tangan hitam hangus yang perlahan memudar, meninggalkan bau wangi kayu gaharu yang dicampur bau busuk yang samar.
Zaid gemetar. Ia segera merapikan duduknya, bersila dengan sempurna, mencium kitabnya, dan menaruhnya di tempat yang paling tinggi.
Sejak malam itu, Zaid bukan lagi santri yang paling keras suaranya saat berdebat. Ia menjadi santri yang paling tenang, paling sopan, dan paling sering terlihat merapikan sandal-sandal di depan pintu pesantren.
Karena ia tahu, di balik pintu-pintu kayu itu, ada sesuatu yang menjaga kehormatan ilmu. Dan ilmu yang didapat tanpa adab, mungkin akan membuatmu pintar, tapi ia juga akan membawamu "berteman" dengan sesuatu yang seharusnya tidak kau temui.
.png)
Komentar
Posting Komentar