RAHASIA DI BALIK PINTU PESANTREN
Rahasia di Balik Pintu Pesantren Malam itu, jam dinding di asrama menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Suasana Pesantren sunyi mencekam, hanya suara jangkrik yang bersahutan dengan deru angin dari sawah di belakang pesantren. Zaid, santri yang dikenal paling cerdas namun sombong, masih terjaga. Ia sedang mempersiapkan diri untuk perlombaan Musabaqah Qira’atil Kutub (baca kitab kuning) tingkat kabupaten. Di depannya tergeletak kitab Ihya Ulumuddin yang tebal. Namun, Zaid punya kebiasaan buruk. Ia sering meletakkan gelas kopi di atas kitab suci tersebut. Ia juga sering belajar sambil selonjoran kaki, dengan kaki yang mengarah langsung ke arah rak kitab dan foto sang Kiai. "Ah, itu kan cuma tradisi kolot," ucap Zaid saat teringat teguran temannya tadi siang. "Ilmu itu ada di otak, bukan di cara duduk." Tiba-tiba, lampu di kamarnya berkedip. Pet! Padam total. Zaid meraba-raba mencari ponselnya. Namun, saat cahaya ponsel menyala, ia menyadari sesuatu yang aneh. Ia ti...